Sabtu, 22 Maret 2014

Identitas Pemuda yang Hilang


BERI Aku 10 pemuda, maka akan aku guncangkan dunia,” (Soekarno). Pemuda merupakan sebuah tonggak perubahan bagi suatu negeri, generasi penerus yang akan melanjutkan sebuah peradaban dunia. Baik-buruknya suatu negeri di masa depan tergantung pada kondisi pemuda saat ini. karena pemudalah yang akan menjadi pemegang estafet peradaban di masa yang akan datang.

Pemuda memiliki potensi yang patut dibanggakan dalam setiap generasi. Kecerdasannya, semangat yang tinggi, keidealitasan yang dimilikinya ditambah dengan pemikiran yang kritis serta kepeduliannya terhadap masyarakat menjadi modal utama untuk membangun sebuah negara yang lebih maju. Namun apa jadinya nasib sebuah negara jika kaum pemuda tidak lagi mampu diharapkan? Apa jadinya jika pemuda telah kehilangan identitasnya sebagai penerus bangsa?

Faktanya, pemuda saat ini memang telah kehilangan identitasnya hingga pada titik nadir. Potensi-potensi yang seharusnya dimiliki oleh pemuda saat ini tidaklah nampak kecuali hanya sedikit saja. Krisis sosial, krisis moral serta arogansi yang tinggi inilah yang justru menjangkit pemuda saat ini. Kasus tawuran antar pelajar menjadi sebuah daftar hitam yang tak kunjung selesai. Seperti yang telah diberitakan bulan lalu, tawuran anak sekolah pecah di Jalan dr Cipto Semarang, Selasa (10/9) sore. Enam siswa diamankan di Mapolsek Gayamsari setelah polisi berhasil membubarkan tawuran. (Suaramerdeka.com: 10/9/2013).

Tidak hanya sebatas itu, seks bebas, minum-minuman keras, narkoba bahkan geng motor pun telah menjadi sebuah siklus kehidupan pemuda saat ini. bahkan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pemuda pun kerap kali terjadi. Kehidupan pun kini telah berubah menjadi hukum rimba yang amat mengerikan, yang kuat memangsa yang lemah.

Tentu kita tidak ingin terus-menerus seperti ini. Siapakah kelak yang akan menggantikan bangsa jika keadaan pemuda pun sudah tidak karuan seperti ini? Pemuda telah kehilangan identitasnya bahkan potensinya menjadi lemah dan hancur akibat virus yang mengidap di negeri ini, yaitu virus kapitalisme. Kapitalismelah yang menjadi biang kerok utama atas segala kerusakan yang terjadi pada kehidupan pemuda.

Virus Sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang merupakan asas dari kapitalisme telah menjauhkan para pemuda muslim dari pemahaman Islam yang sebenarnya. Pemuda muslim larut dalam buaian pemahaman Barat yang rusak hingga membawa mereka pada kemerosotan moral yang sangat luar biasa. Pendikotomian nilai agama (Islam) dalam pendidikan menjadi malapetaka besar.

Output-output pendidikan hanya menghasilkan orang-orang yang cerdas namun bermental buruk dan korup. Pendidikan yang semakin mahal dan kurikulum yang dipadatkan menyebabkan pemuda (baca: mahasiswa) mengubah arah orientasinya, pemuda kini dikejar “jam tayang”, ingin cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan untuk mengganti biaya pendidikan yang telah dikocorkan.

Sehingga pemuda tidak sempat lagi memikirkan keadaan sekitarnya lambat-laun tumpulah rasa empati dalam dirinya hingga berubah menjadi pemuda yang apatis.

Kemudian kehidupan pun telah mengubah paradigma berpikir pemuda. Tontonan-tontonan hedonis menjadi makanan sehari-hari, akibatnya pemuda menjadi konsumtif. Ditambah kehidupan yang berubah menjadi individualis pun memperparah keadaan, pemuda menjadi sosok yang tidak mau lagi bergerak (baca:berubah), tidak peduli dengan keadaan sekitar, bagaimana pun kondisinya selama dirinya sendiri tidak merasa dirugikan maka akan tetap diam.

Itulah potret pemuda saat ini, ibarat sebuah fenomena gunung es, yang muncul dalam permukaan tentu lebih sedikit dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Namun adakah solusi yang tepat untuk merentaskan permasalahan ini? jawabannya tentulah ada, yaitu Islam. Hanya Islamlah yang akan mampu mengembalikan kembali identitas para pemuda muslim yang telah hilang ini.

Di dalam Islam, negara wajib menjaga atsmosfer keimanan dalam kehidupan bernegara. Dimana para pemuda telah ditanamkan rasa keimanan dan serta ketakwaan kepada Allah. Rasulullah saw, bersabda dalam Hadits Abdullah Bin Mas’ud r.a : “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan....,” (HR. At-Tirmizi).

Inilah hadits yang ditanamkan pada setiap diri seorang pemuda muslim selain keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Maka tak heran jika mereka menjadi sosok-sosok yang begitu wara’ (hati-hati) dalam melakukan setiap perbuatan karena mereka paham betul bahwa segala sesuatu tidak akan luput dari penglihatanNya.

Kemudian hal ini pun didukung dalam dunia pendidikan. Negara wajib mengintegrasikan ilmu agama Islam dalam setiap mata pelajaran sehingga output-output yang dihasilkan pun tidak hanya cerdas dalam bidang akademik saja namun mumpuni dalam bidang agama, seperti halnya pendidikan Islam telah mampu melahirkan seorang Imam yang terkenal, Imam Bukhari dan seorang ilmuwan yang termahsyur yaitu Ibnu Sina. Tentu saja hal ini pun didukung pula dengan kehidupan negara yang Islami sehingga pemuda pun terhindar dari virus sekulerisme tadi.

Namun pertanyaannya mampukah kehidupan Islam di terapkan dalam keadaan seperti ini? tentu saja tidak. Kehidupan Kapitalisme sampai kapan pun tidak akan pernah menciptakan kehidupan Islam yang kita idam-idamkan. Jalan satu-satunya untuk menciptakan kehidupan Islam hanyalah dengan menerapkan Islam secara total dalam setiap sendi kehidupan dan mengubur dalam-dalam kehidupan kapitalisme.

Wahai pemuda muslim! Sungguh Islamlah identitas kita. Hanya Islamlah yang akan memajukan potensi pada setiap diri pemuda hingga ia mampu bermanfaat bagi umatnya. Hanya Islam yang akan menjadikan kita sebagai generasi cemerlang. Maka dengan segala potensi yang kita miliki sebagai seorang pemuda, maka bergeraklah melakukan sebuah perubahan dan melakukan sebuah transformasi perubahan untuk peradaban yang lebih gemilang. []


Oleh : Iis Nawati, Aktivis KALAM UPI, Bandung
Senin 23 Zulhijjah 1434 / 28 October 2013 14:42
Sumber : http://www.islampos.com/identitas-pemuda-yang-hilang-84409/

Senin, 10 Maret 2014

Alhamdulilah; Kita Sudah Mengawalinya


Kata mengawali berasal dari kata awal, yang memiliki imbuhan me dan akhiran i. Kata awal itu biasanya diartikan sebagai sesuatu yang pertama, karena kata awal itu berasal dari bahasa arab yang sudah diserap menjadi bahasa indonesia. Sedangkan dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia) kata awal diartikan sebagai mula-mula, permulaan, atau jauh-jauh hari sebelum ditentukan.

Adapun seseorang yang mengawali bisanya disebut Pioneer, Pencetus, Penggagas, atau Founder. Dari nama-nama tersebut itu hanyalah sebuah ungkapan bagi mereka yang mampu mengawali dalam sebuah tindakan yang akhirnya bisa dikenal oleh orang banyak. Nama tersebut lahir untuk sebuah apresiasi yang diberikan bagi siapa yang telah memulai sesuatu yang baru.

Mungkin kita sering mendengar kata-kata bijak : "Menjadi sesuatu itu mudah... tetapi untuk mengawalinya itu sangat sulit sekali..." Misalkan saja kita ingin menjadi pedagang, tetapi tidak pernah sama sekali memulainya, tentu selamanya keinginan itu hanya ada dalam khayalan. Untuk itu memulai itu sangat sulit.

Tetapi, kami sudah membuktikan bahwa mulai tanggal 12 Februari 2014 kami sudah memulai sesuatu yang besar dan kami yakin akan bertambah menjadi besar. Sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki sebuah harapan besar dan manfaat yang tak terbatas bagi kelangsungan masa depan generasi bangsa.

Mari bergabung di sini, di Forum Pemuda Penggerak Desa. Forum ini kami bangun untuk memajukan desa melalui pendidikan non formal, guna membuka wawasan masyarakat (anak-anak, remaja, dan orang tua) terhadap kemajuan dan persaingan dunia saat ini. Tentunya tidak melupakan kewajiban mereka sebagai orang yang bertaqwa; rajin sholat, ngaji, dan mendalami ilmu-ilmu agama.

Memulai di Kampung Mayat desa Panunggulan Kec. Tunjung Teja, Serang - Banten, merupakan modal yang luar biasa untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. Tak hanya itu, di Kampung Kedokan juga menjadi tambahan pengalaman yang kedua, sedangkan Cigodeg yang ketiga dan yang keempat, baru saja kami lakukan di Kampung Pabuaran kemarin. []

Minggu, 09 Maret 2014

Memberi Selagi Kita Bisa


Mari berbagi, mengabdi, dan menginspirasi. Inilah jargon yang sering kami gunakan dalam hal apapun dan dimana pun. Jargon ini kami ciptakan ketika berdiskusi untuk membuat acara yang akan kami adakan di pertengahan bulan Februari 2014. Atas dasar inilah kami akhirnya berembuk untuk sebisa mungkin memberikan manfaat kepada adik-adik kami yang lain.

Meski tidak memberi dengan sesuatu hal yang berupa harta atau materi secara langsung, tetapi kami berharap bisa memberi dengan cara lain, yaitu dengan sebuah kisah-kisah inspiratif. Semoga dengan cara ini dapat merubah cara pandang dan berfikir (mindset) mereka. Sekecil apapun yang kami miliki, bagaimana caranya bisa bermanfaat bagi orang lain..

Setelah acara itu berhasil kami ciptakan, wawasan kami semakin terbuka. Kekurangan-kekurangan itu semakin tampak dan apa saja yang harus kami beri untuk mereka semakin terbuka jelas. Meski saat ini kami sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing dan berjauhan, sebisa mungkin kami tetap menjalin komunikasi dengan baik di dunia maya.

Hingga detik hari ini, rasanya otak dan pikiran kami tidak berhenti untuk memikirkan sesuatu yang bisa kami bagi untuk mereka. Di pertemuan yang pertama, tak banyak yang bisa kami berikan. Tetapi di malam yang kedua dan di tempat yang berbeda pula, di sana kami memberikan kisah dan pengalaman terkait perjuangan yang pernah kami alami.

Semoga kisah yang sudah kami berikan bisa mereka jadikan pembelajaran dan menjadi batu loncatan untuk menjadi lebih giat, lebih rajin dan lebih baik lagi. Harapan kami satu, mereka bisa berubah dan bisa membuka wawasannya ke depan. Rasanya tugas ini bukan hanya tugas kami saja, tetapi menjadi tugas kita bersama. Bagaimana memberikan semangat kepada mereka yang sedang mengalami kegalauan dan keterpurukan.

Melalui tulisan yang sederhana ini, kami ingin mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk : Pertama berbagi, apa yang bisa kita bagikan untuk mereka. Sekecil apapun yang kita bagi, jika itu bermanfaat tentu akan ada imbalannya, entah itu di dunia dan pastinya di akhirat kelak. Kedua, yaitu mengabdi, mengabdi di sini yaitu mengabdi kepada masyarakat.

Pergaulan yang saat ini semakin bebas tentu sangat mengkhawatirkan. Tugas kita saat ini bagaimana mengontrolnya supaya tetap berada dalam koridor-koridor agama dan tidak melenceng dari jalannya. Kalau bukan kita yang mengawasinya siapa lagi? Jangan biarkan lingkungan kita menjadi rusak, dan hancur karena pergaulan yang dilarang oleh agama.

Ketiga, menginspirasi. Meski tidak bisa memberikan inspirasi kepada orang lain melalui prestasi, tetapi kita bisa menceritakan kisah-kisah orang yang sudah sukses dangan bahasa dan gaya kita masing-masing. Bagi kami, yang demikian sudah termasuk ke dalam menginspirasi. Dengan cerita atau kisah yang kita tampilkan secara tidak langsung merangsang orang lain untuk bisa menjadi seperti apa yang dikisahkan.

Sebelum saya tutup tulisan yang sederhana ini, saya punya sebuah ungkapan menarik, “Jangan tunggu menjadi kaya kalau ingin memberi…. Tetapi memberilah di kala kita bisa…” Artinya apa, jangan menunggu untuk menjadi, tetapi lakukan selagi bisa kita lakukan. Jangan menunggu menjadi orang yang hebat dulu, tetapi sebelum menjadi orang hebat pun kita sudah melakukannya.

Intinya, selagi kita bisa kenapa harus menunggu…[Zah]